Pendidikan

Cita-cita Polisi

Taufik · 11 September 2026

Intro: Ini adalah remake dari tulisan saya di https://taufiqstories.blogspot.com/2019/08/polri-impianku-masa-tk-jadi-nyata.html

Setiap anak kecil pasti punya cita-cita. Begitu juga saya.

Kalau dulu ditanya,

"Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?"

Saya akan menjawab dengan penuh semangat,

"Jadi polisi, biar punya tembak!"

Hahaha.

Tapi seiring berjalannya waktu, cita-cita itu ternyata bisa berubah.

Saat SD saya ingin menjadi pembalap. Masuk SMP, saya ingin menjadi arsitek. Ketika SMK, cita-cita saya berubah lagi menjadi seorang IT Security yang bisa menaklukkan hacker di seluruh dunia.

Waktu itu saya berpikir, salah satu jalan untuk mendalami bidang keamanan siber adalah menjadi anggota Kepolisian, khususnya menangani kejahatan internet (cyber crime).

Tapi ternyata, jalan menuju Kepolisian saya justru tidak dimulai dari sana.


Suatu hari, sebuah perusahaan bernama Telkom Sigma mengadakan rekrutmen di sekolah kami. Saya mendengar mereka juga membuka posisi untuk staf IT Security.

Karena merasa bidang tersebut sesuai dengan kemampuan saya, saya pun mencoba mendaftar.

Hari seleksi tiba.

Teman-teman yang ikut sudah terlihat rapi dengan kemeja. Sementara saya? Anak SMK yang agak urakan dan bahkan tidak punya kemeja di lemari.

Akhirnya saya memakai baju flanel.

Begitu kami dikumpulkan di sebuah kelas, salah satu staf seleksi menegur saya,

"Kamu itu mau ke mall atau mau melamar kerja?"

Saya hanya bisa tertunduk malu.

Tes psikologi pun tidak berjalan lebih baik. Saya belum pernah mengikuti tes seperti itu sebelumnya dan akhirnya mendapatkan nilai paling buruk di antara peserta lain.

Untungnya, pada tahap wawancara saya kembali percaya diri karena yang ditanyakan berkaitan dengan keamanan jaringan—bidang yang memang saya sukai.

Beberapa tahap seleksi akhirnya selesai.

Saya pulang dan menunggu pengumuman.

Alhamdulillah, nama saya tercantum sebagai salah satu siswa yang diterima.

Saya pun mulai bekerja.

Namun setelah beberapa bulan, saya merasa kurang nyaman dan akhirnya mengundurkan diri.

Saya kembali mencoba mencari pekerjaan di perusahaan lain. Sayangnya, pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan keahlian saya di bidang security, sementara gajinya saat itu hanya Rp2.800.000, di bawah UMR Jakarta yang sekitar Rp3.400.000.

Saya kembali mengundurkan diri.

Saat itu saya mulai berpikir, sebenarnya saya mau ke mana?


Akhirnya saya pulang ke Jawa Timur.

Saya pergi ke Kampung Inggris, Pare, untuk belajar berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Tujuannya sederhana: saya ingin suatu hari bisa bekerja sebagai IT Security di luar negeri.

Di tengah perjalanan itu, tiba-tiba Ibu menelepon.

"Nak, nggak mau coba daftar Polisi? Kalau serius, nanti mobil di rumah mau dijual."

Saya kaget.

"Ngapain juga jadi Polisi?"

Ibu hanya menjawab,

"Ya sudah, dipikir-pikir dulu."

Telepon ditutup, tapi tawaran itu terus ada di kepala saya.

Beberapa minggu kemudian, Ibu kembali bertanya,

"Gimana? Mau coba daftar Polisi?"

Saya akhirnya menjawab,

"Iya. Tapi Taufiq nggak mau sampai keluar biaya. Apalagi sampai jual ini-itu supaya bisa lolos jadi Polisi."

"Iya, iya." Ucap Ibu meyakinkan.

Sejak saat itu saya mulai serius mempersiapkan diri.


Waktu itu berat badan saya sekitar 84 kg dengan tinggi 168 cm.

Selama di Pare, setiap ada waktu senggang setelah kelas, saya menyempatkan diri berolahraga. Pagi, siang, bahkan malam.

Saya harus menurunkan berat badan sekaligus mempersiapkan fisik.

Empat bulan di Pare selesai. Saya kembali ke Bangkalan dengan berat sekitar 75 kg.

Masih kurang.

Saya terus berlatih sampai akhirnya hari seleksi tiba dengan berat sekitar 73 kg.

Belum ideal, tapi setidaknya saya sudah jauh lebih siap dibanding sebelumnya.


Ada banyak tahapan yang harus saya lewati.

Salah satunya tes psikologi.

Tes yang dulu membuat saya kewalahan saat seleksi menjadi staf IT Security.

Kali ini hasilnya 62, sementara nilai minimalnya 61.

Tipis sekali.

Tapi saya lolos.

Kemudian ada tes kesehatan, bentuk tubuh, akademik, jasmani, dan berbagai tahapan lainnya.

Saya hanya akan menceritakan beberapa bagian yang paling saya ingat.

Saat tes akademik, saya cukup percaya diri karena sejak SMK saya memang cukup memahami Jaringan Komputer.

Tes praktik pun bisa saya kerjakan dengan mudah.

Namun setelah waktu habis, terjadi masalah pada komputer dan program yang digunakan untuk mengerjakan soal saya.

Karena sudah terbiasa menghadapi masalah saat bekerja di perusahaan swasta, saya tetap tenang dan menjelaskan kepada panitia,

"Maaf, Pak. Semuanya sudah saya kerjakan dengan benar. Sepertinya ada masalah pada komputer atau programnya."

Panitia akhirnya memahami situasinya.

Kami kemudian menunggu hasil.

Alhamdulillah, meskipun sempat mengalami masalah teknis, saya mendapatkan peringkat kedua dalam tes akademik.


Kemudian tibalah tes jasmani.

Ada lari 12 menit, push-up, sit-up, shuttle run, pull-up, dan renang.

Untuk lari 12 menit saya masih kurang. Saya hanya mampu mencapai sekitar 2,1 km dari target minimal 2,4 km.

Untuk pull-up, saya hanya mampu tiga repetisi.

Untungnya, pada tes lainnya saya bisa mendapatkan hasil maksimal.

Salah satu yang paling saya ingat adalah renang 25 meter yang bisa saya selesaikan dalam waktu sekitar 17 detik.

Jadi, kalau ada yang bertanya apakah saya sempurna dalam semua tes?

Tentu tidak.

Ada bagian yang bagus, ada juga yang masih kurang.

Tapi mungkin itulah prosesnya.

Kita tidak harus unggul di semuanya untuk bisa terus melangkah.


Semua tahapan akhirnya selesai.

Tinggal menunggu keputusan Mabes Polri mengenai jumlah peserta yang akan diterima.

Penentuan dilakukan berdasarkan akumulasi nilai dan peringkat.

Hari itu suasananya berbeda.

Banyak peserta terlihat tegang.

Sementara saya masih selow-selow saja.

Mungkin ini salah satu kelebihan saya.

Atau mungkin juga kekurangan saya.

Saya memang cenderung tetap tenang dalam berbagai kondisi.

Wkwkwk.

Tapi ketika dokumen keputusan akhirnya datang dan waktu pengumuman semakin dekat, saya yang biasanya santai mulai ikut deg-degan.

Kami semua menunggu hasil.

Dan akhirnya...

Alhamdulillah, saya lolos dan terpilih menjadi calon anggota Polri.

Sebagian peserta menangis bahagia karena terpilih.

Sebagian lainnya menangis karena meskipun dinyatakan lolos, mereka tidak masuk dalam kuota yang diterima.

Saya?

Tetap tenang.

Walaupun tadi sempat deg-degan juga.

Sebagai Gen Z awal, tentu saja ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Saya mengambil handphone dan mengunggah Instastory dengan tulisan:

"BHAYANGKARA SEJATI."

Hahaha.


Ada satu hal yang ingin saya tekankan dari pengalaman saya.

Selama seluruh proses seleksi yang saya jalani, saya tidak mengeluarkan biaya untuk bisa lolos.

Tidak sedikit pun.

GRATIS TIS TIS!

Jadi, jangan tanamkan pikiran bahwa kalau ingin menjadi Polisi harus membayar.

Kalau ada seseorang yang menawarkan bisa meloloskan kalian dengan sejumlah uang, jangan percaya begitu saja.

Jangan bayar untuk sesuatu yang seharusnya ditentukan berdasarkan kemampuan dan hasil seleksi.

Saya tentu tidak bisa berbicara atas nama semua orang atau semua proses, tetapi pengalaman saya sendiri adalah: saya mengikuti proses seleksi tanpa membayar untuk kelulusan.


Kalau saya melihat kembali perjalanan ini, lucu juga rasanya.

Anak kecil yang dulu ingin menjadi Polisi karena ingin punya pistol, kemudian bercita-cita menjadi pembalap, arsitek, lalu IT Security...

Pada akhirnya justru benar-benar masuk Kepolisian.

Tapi perjalanan menuju ke sana tidak pernah benar-benar lurus.

Saya sempat gagal mendapatkan nilai yang saya harapkan.

Sempat memilih jalan sebagai IT Security.

Sempat bekerja lalu mengundurkan diri.

Sempat bingung menentukan arah.

Sampai akhirnya sebuah telepon dari Ibu mengubah arah perjalanan saya.

Mungkin memang begitu cara hidup bekerja.

Kita sering mengira sedang tersesat, padahal sebenarnya sedang diarahkan menuju tempat yang belum kita pahami.

Dan mungkin, cita-cita masa kecil yang pernah saya ucapkan sambil bercanda itu memang belum benar-benar hilang.

Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.


Gagasan Terkait