Pemuda Madura, Jangan Melulu Berpikir “Saya Harus Bekerja di Luar Negeri”
Ada satu hal yang cukup sering saya pikirkan ketika melihat anak-anak muda Madura berbicara tentang masa depan.
Ketika ditanya, “Setelah lulus mau kerja apa?”
Tidak jarang jawabannya adalah:
Mau ikut kapal.
Atau,
Mau jadi TKI.
Ada juga yang mengatakan ingin bekerja ke Malaysia, Jepang, Korea, Arab Saudi, atau negara lainnya.
Saya tidak pernah menganggap pilihan tersebut sebagai sesuatu yang salah.
Justru sebaliknya.
Saya tahu, banyak orang pergi jauh bukan karena mereka tidak mencintai Madura.
Mereka pergi karena mencintai keluarganya.
Mereka ingin membangun rumah untuk orang tua. Ingin membantu adik sekolah. Ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Ingin keluar dari keadaan yang mungkin selama bertahun-tahun terasa sulit.
Saya sangat menghargai itu.
Tetapi kemudian muncul sebuah pertanyaan di kepala saya:
Apakah untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik, pemuda Madura memang harus selalu pergi jauh dari rumah?
Kita terbiasa berpikir bahwa uang besar ada di luar sana
Mungkin karena kita sudah terlalu lama melihat pola yang sama.
Kalau ingin mendapatkan penghasilan lebih besar, pergi ke kota.
Kalau ingin lebih besar lagi, pergi ke luar negeri.
Akhirnya, tanpa sadar, kita membangun sebuah keyakinan:
Kalau saya ingin sukses, saya harus meninggalkan Madura.
Padahal dunia sudah berubah.
Dulu, untuk bekerja dengan perusahaan di luar daerah, kita memang harus datang ke tempat perusahaan itu berada.
Sekarang tidak selalu begitu.
Internet membuat batas geografis menjadi semakin tidak berarti.
Seseorang bisa duduk di sebuah rumah sederhana di Madura, tetapi pekerjaannya berhubungan dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Pasarnya bisa berada di Jakarta.
Kliennya bisa berada di Singapura.
Perusahaannya bisa berada di Amerika.
Dan penghasilannya bisa datang dari luar negeri.
Orangnya tetap di Madura. Pasarnya yang mendunia.
Menurut saya, ini adalah sesuatu yang perlu mulai kita pikirkan.
Sebelum pergi, kita perlu menghitung kembali modal kita
Coba kita bayangkan seorang pemuda ingin menjadi pekerja migran atau awak kapal.
Dia mungkin perlu mempersiapkan berbagai hal.
Kursus bahasa.
Pelatihan.
Sertifikasi.
Dokumen.
Transportasi.
Biaya keberangkatan.
Dan berbagai kebutuhan lainnya.
Dalam kondisi tertentu, totalnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Katakanlah sebagai ilustrasi Rp40 juta.
Rp40 juta adalah uang yang sangat besar bagi banyak keluarga.
Dan uang tersebut digunakan untuk mempersiapkan seseorang agar bisa pergi mencari pekerjaan.
Tetapi saya kemudian berpikir:
Bagaimana kalau sebagian anak muda kita mulai belajar bertanya dengan cara yang berbeda?
Bukan:
Rp40 juta ini bagaimana supaya saya bisa berangkat?”
Tetapi:
“Dengan kemampuan dan modal yang saya miliki, bagaimana saya bisa menciptakan penghasilan tanpa harus berangkat?”
Belajar tidak selalu membutuhkan biaya puluhan juta
Ada banyak keterampilan yang hari ini bisa mulai dipelajari secara gratis.
Salah satunya adalah analisis market. (https://taufiq.solutions/academy/analisis-untuk-pemula)
Forex adalah salah satu pasar yang bisa dipelajari.
Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang harus menjadi trader.
Apalagi saya tidak ingin menjual mimpi bahwa Forex adalah jalan cepat menjadi kaya.
Tidak.
Forex memiliki risiko.
Bahkan orang yang sudah berpengalaman pun bisa mengalami kerugian.
Karena itu, kalau ingin mempelajarinya, yang pertama harus dipelajari bukan bagaimana mendapatkan keuntungan.
Tetapi:
bagaimana membaca market, bagaimana mengelola risiko, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana menerima kerugian, dan bagaimana menjaga modal.
Bahkan belajar bisa dimulai tanpa uang.
Pelajari teorinya.
Gunakan akun demo.
Uji kemampuan.
Buat sistem.
Catat hasilnya.
Belajar dari kesalahan.
Baru setelah benar-benar memahami risikonya, seseorang boleh mempertimbangkan menggunakan modal nyata.
Bagaimana jika uang yang biasanya digunakan untuk “pergi” digunakan untuk “membangun”?
Ini bukan berarti saya mengatakan:
“Jangan gunakan Rp40 juta untuk menjadi pekerja migran, masukkan saja semuanya ke Forex.”
Bukan begitu.
Itu justru berbahaya.
Yang ingin saya ajukan adalah sebuah cara berpikir.
Bayangkan seseorang mempunyai modal Rp40 juta.
Kalau dia belum memiliki kemampuan trading, jangan masukkan Rp40 juta itu ke market.
Belajar dulu.
Bangun kemampuan dulu.
Kalau akhirnya memang cocok, gunakan modal secara bertahap dan dengan risiko yang benar-benar terukur.
Sebagai ilustrasi matematika saja, misalnya seseorang memiliki modal Rp40 juta dan pada suatu periode mampu menghasilkan rata-rata 2%:
Rp40.000.000 × 2% = Rp800.000.
Kalau angka tersebut terjadi empat kali dalam sebulan, secara sederhana menjadi sekitar Rp3,2 juta.
Tentu kenyataan tidak sesederhana itu.
Ada minggu ketika market memberikan peluang.
Ada minggu ketika tidak ada peluang.
Ada saat mendapatkan keuntungan.
Ada saat mengalami kerugian.
Bahkan target 2% per minggu bukan sesuatu yang bisa dijanjikan atau dianggap sebagai pendapatan tetap.
Tetapi bagi saya, yang menarik bukan semata-mata angka Rp3,2 juta itu.
Yang menarik adalah sebuah pertanyaan:
Bagaimana jika seseorang bisa membangun sumber pendapatan dari pasar global tanpa harus meninggalkan keluarganya?
Bayangkan jika bukan hanya satu orang
Sekarang coba kita perbesar bayangannya.
Bagaimana kalau ada 10 orang?
Kemudian 100 orang?
Kemudian 1.000 anak muda Madura yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan dari berbagai sektor yang pasarnya berada di luar Madura?
Bukan hanya Forex.
Tetapi juga:
programmer.
desainer.
digital marketer.
analis data.
content creator.
freelancer.
pengusaha digital.
konsultan.
dan berbagai pekerjaan lainnya.
Mereka tidak harus semuanya bekerja dari kantor di Jakarta.
Mereka tidak harus semuanya pergi ke Malaysia.
Mereka tidak harus semuanya naik kapal.
Mereka bisa tetap berada di Madura.
Tetapi pekerjaannya bisa berhubungan dengan dunia.
Karena uang yang masuk ke Madura akan berputar di Madura
Ini bagian yang sering tidak kita pikirkan.
Ketika seseorang bekerja jauh di luar negeri, tentu sebagian penghasilannya bisa dikirim pulang.
Tetapi orangnya tetap berada jauh.
Bayangkan kalau seseorang bisa memperoleh pendapatan dari luar negeri sementara dirinya tetap tinggal di Madura.
Dia makan di warung Madura.
Belanja di toko Madura.
Membayar internet.
Menggunakan jasa bengkel lokal.
Membeli produk UMKM.
Menyewa rumah.
Membayar jasa orang sekitar.
Membangun usaha.
Mempekerjakan orang lain.
Uang yang masuk kemudian berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Dari pendapatan global menjadi konsumsi lokal.
Dari satu orang menjadi pendapatan orang lain.
Dari pendapatan orang lain menjadi omzet warung.
Dari omzet warung menjadi penghasilan pedagang.
Dan seterusnya.
Ekonomi kecil mulai bergerak.
Saya ingin kita berhenti melihat Madura hanya sebagai tempat asal tenaga kerja
Mungkin ini terdengar terlalu besar.
Tetapi saya punya sebuah mimpi sederhana.
Saya ingin suatu hari nanti ketika seorang anak muda Madura berkata:
Saya ingin mendapatkan penghasilan besar.
Jawaban pertama yang muncul di kepalanya tidak selalu:
Saya harus pergi ke luar negeri.”
Tetapi ada pilihan lain:
“Saya bisa membangun kemampuan di sini.”
“Saya bisa bekerja untuk pasar nasional dari sini.”
“Saya bisa bekerja untuk pasar global dari sini.
Saya bisa membangun bisnis dari sini.
Saya bisa menghasilkan uang dari sini.
Dan kalau pada akhirnya dia tetap memilih pergi ke luar negeri, tidak masalah.
Yang penting, itu menjadi sebuah pilihan, bukan karena dia merasa tidak punya pilihan lain.
Kita tidak harus melarang mereka pergi
Saya tidak ingin mengatakan kepada pemuda Madura:
Jangan jadi TKI.
Banyak keluarga yang kehidupannya berubah karena kerja keras anggota keluarganya di luar negeri.
Banyak awak kapal yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja keras dan pantas dihormati.
Tetapi kita juga harus berani membuka pilihan baru.
Karena mungkin persoalannya bukan:
Apakah pemuda Madura boleh pergi?
Pertanyaannya adalah:
Apakah pemuda Madura memiliki cukup banyak pilihan sebelum memutuskan untuk pergi?
Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan
Selama ini kita sering bertanya:
Bagaimana caranya pemuda Madura bisa bekerja di luar negeri?
Saya ingin kita mulai menambahkan satu pertanyaan lagi:
Bagaimana caranya dunia menjadi pasar bagi pemuda Madura, sementara pemuda Madura tetap tinggal di Madura?
Saya tidak tahu apakah jawabannya adalah Forex.
Mungkin sebagian orang memang cocok dengan Forex.
Mungkin sebagian tidak.
Dan itu tidak masalah.
Karena tujuan akhirnya bukan menciptakan seribu trader.
Tujuannya adalah menciptakan seribu, sepuluh ribu, bahkan lebih banyak lagi anak muda Madura yang memiliki keterampilan bernilai tinggi dan mampu menjual keterampilannya kepada dunia.
Kita tidak kekurangan anak muda yang mau bekerja.
Kita juga tidak kekurangan keberanian.
Yang mungkin masih kurang adalah akses terhadap pengetahuan, kesempatan, dan cara pandang bahwa penghasilan tidak selalu harus dicari dengan meninggalkan rumah.
Madura juga bisa menjadi tempat membangun masa depan
Saya membayangkan Madura di mana anak muda tidak lagi merasa bahwa kesuksesan selalu berada di tempat lain.
Mereka bisa tetap dekat dengan orang tua.
Tetap melihat anak tumbuh setiap hari.
Tetap menghadiri acara keluarga.
Tetap makan bersama keluarga.
Tetap hidup di kampung halamannya.
Namun pada saat yang sama, pekerjaannya terhubung dengan dunia.
Pasarnya global.
Penghasilannya bisa global.
Tetapi kehidupannya tetap di Madura.
Mungkin sudah waktunya kita tidak hanya mengirim manusia ke luar negeri untuk membawa uang pulang.
Kita juga harus belajar bagaimana membawa uang dari luar negeri masuk ke Madura, tanpa harus selalu mengirim manusianya pergi.
Karena saya percaya:
Madura tidak kekurangan manusia hebat.
Yang kita butuhkan adalah ekosistem yang membuat manusia-manusia hebat itu tidak selalu merasa harus pergi untuk menjadi berarti.
Dan mungkin, masa depan Madura bukan hanya tentang berapa banyak orang Madura yang berhasil bekerja di luar negeri.
Tetapi juga tentang berapa banyak orang dari seluruh dunia yang akhirnya menjadi pasar bagi kemampuan orang Madura.