Intro: Ini adalah remake dari tulisan saya di https://taufiqstories.blogspot.com/2015/03/smk-telkom-malang-awalku-mewujudkan.html
SMK Telkom Malang bisa dibilang sebagai salah satu sekolah favorit di Jawa Timur. Biaya masuk dan SPP-nya memang cukup tinggi dibandingkan sekolah lain, tetapi ribuan calon siswa tetap berlomba-lomba untuk masuk. Mungkin memang ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kualitas.
Sekolah ini juga berakreditasi "A", dan sampai sekarang saya masih bangga pernah menjadi bagian darinya.
Kali ini saya ingin sedikit bercerita bagaimana saya bisa sampai ke sekolah ini.
Ujian Nasional sudah selesai dan saya tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
Saat itu saya cukup percaya diri bisa mendapatkan Danem minimal 37,00. Namun ketika pengumuman keluar, ternyata Danem saya hanya 34,00.
Saya sempat kaget karena beberapa SMA favorit di Bangkalan memiliki kualifikasi Danem di atas angka tersebut. Akhirnya saya mencoba mendaftar melalui jalur prestasi non-akademik dan Alhamdulillah diterima di salah satu SMA favorit di Bangkalan.
Seharusnya saat itu saya sudah punya pilihan.
Namun suatu hari, ketika menghadiri acara keluarga, saya bertemu dengan sepupu yang baru saya kenal, sebut saja Mas Ekon. Beliau bekerja di SMK Telkom Malang dan bercerita sedikit tentang sekolah tersebut.
Awalnya saya tidak terlalu tertarik. Sekolah di Malang berarti harus jauh dari orang tua.
Ramah, panggilan saya untuk bapak, sering bertanya,
"Mau lanjut ke mana?"
Saya sendiri bingung antara SMA favorit di Bangkalan atau SMK Telkom Malang.
Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya saya memilih Malang.
Alasannya sederhana: Malang adalah kota impian saya sejak kecil.
Kalau dipikir sekarang, alasannya memang terdengar tidak masuk akal. Tapi ternyata, keputusan sederhana itu membawa saya ke salah satu perjalanan penting dalam hidup saya.
Saya mendaftar melalui jalur reguler dan harus mengikuti tes tulis.
Masalahnya, saya justru terlalu santai.
Saya lebih banyak bermain dengan teman-teman dan hampir tidak belajar karena yakin bisa lolos.
Sehari sebelum tes, saya dan Ramah berangkat ke Malang menggunakan bus dan menginap di sebuah wisma.
Keesokan harinya, saya masuk ruang ujian.
Seratus soal pilihan ganda sudah menunggu: Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Saya mengerjakan semampu saya. Masih ada beberapa soal yang kosong, bahkan setelah selesai dari awal sampai akhir masih tersisa sekitar dua jam.
Saya sempat beristirahat dengan meletakkan kepala di atas tangan, kemudian kembali mencoba mengerjakan soal yang belum terjawab.
Di sekitar saya, banyak calon siswa lain yang mulai terlihat lesu.
Ketika bel berbunyi, saya keluar ruangan dengan cukup percaya diri dan menemui Ramah.
"Gimana soalnya?" tanyanya.
"Gampang, Mah. Cuma dikasih seratus soal aja."
Saya memang sering menggampangkan sesuatu. Tapi bagi saya, itu bukan berarti meremehkan.
Saya percaya, setelah kita berusaha, sisanya kita serahkan kepada Allah.
Allah yang menentukan jalan kita. Kita hanya perlu berusaha.
Setelah kembali ke Madura, saya menunggu pengumuman.
Ibu sempat bertanya,
"Gimana, cung, tesnya?"
"Santai, Buk. Tofek bisa ngerjain kok."
Ibu langsung mengingatkan,
"Jangan cuma santai-santai aja. Jangan lupa juga doa."
Beberapa hari kemudian, pengumuman keluar.
Saya membuka website sekolah dan...
Alhamdulillah, saya lolos.
Ramah dan Ibu langsung tersenyum. Kabar itu juga segera diketahui keluarga besar.
Tinggal satu tahap lagi: tes kesehatan.
Saya cukup percaya diri karena saat itu saya juga aktif sebagai atlet pencak silat.
Tes kesehatan selesai, saya kembali ke Madura dan beberapa waktu kemudian pengumuman keluar.
Saya lolos.
Akhirnya, saya resmi menjadi siswa SMK Telkom Malang.
Dua hari sebelum berangkat, saya berpamitan kepada keluarga besar.
Ada rasa bangga sekaligus haru. Beberapa keluarga bahkan memberikan uang jajan.
Bagian ini tentu saja yang paling saya suka.
Hahaha.
Keluarga besar sebenarnya ingin mengantar saya sampai Malang, tetapi Ramah tidak mengizinkannya karena takut merepotkan.
Akhirnya saya berangkat bersama Ramah.
Sesampainya di Malang, Mas Ekon sudah mencarikan saya tempat kos. Ramah menemani saya selama dua hari sebelum akhirnya kembali ke Madura.
Saat itulah saya mulai benar-benar menyadari:
Saya sekarang harus belajar hidup mandiri.
Saya harus bisa mewujudkan mimpi, membuat kedua orang tua bangga, dan membuktikan—bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri—bahwa saya bisa.
Malam sebelum MOS, saya dan beberapa teman baru yang satu kos berdiskusi tentang perlengkapan MOS yang cukup nyeleneh.
Tapi bagian ini rahasia.
Biar adik-adik yang masuk ke sana nanti merasakan sendiri kejutannya.
Yang penting, imajinasinya bagus.
InsyaAllah lancar.
Hari pertama MOS pun tiba.
Setelah Subuh kami bersiap karena pukul 05.00 WIB sudah harus berada di sekolah. Malang yang terkenal dingin tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan.
Sekitar 100 meter dari gerbang sekolah, kami sudah dipanggil untuk berlari.
Itu memang salah satu budaya di SMK Telkom Malang.
Jadi, kalau sudah melihat gerbang sekolah, siap-siap lari.
Hahaha.
MOS di sekolah ini tidak jauh berbeda dengan sekolah lain, tetapi kami mulai diperkenalkan dengan jiwa korsa dan hirarki. Suasananya sedikit seperti sekolah taruna yang semi-militer.
Senior laki-laki kami panggil Abang dan senior perempuan kami panggil Kakak.
Ada yang galak, ada juga yang baik.
Namun dari semua itu, saya justru paling mengingat satu hal: kami diajarkan untuk tidak berjalan sendirian.
Kami belajar bekerja sama, kompak, dan saling membantu.
Ada satu slogan yang sampai sekarang saya suka:
"Kami itu satu."
Walaupun berasal dari berbagai daerah dan memiliki karakter berbeda, ketika berada di sekolah kami belajar menjadi satu.
Jadi, buat adik-adik yang takut kesepian atau kesulitan ketika masuk ke sini, jangan terlalu khawatir.
Kalian akan bertemu banyak orang dan perlahan menemukan teman-teman yang akan membantu kalian melewati masa sekolah.
Termasuk membantu tugas.
Ups...
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada adik-adik.
Masa depan kalian bukan hanya tentang apa yang tertulis di ijazah.
Nilai bagus memang penting. Sekolah yang bagus juga penting. Tetapi keduanya bukan jaminan bahwa masa depan kalian akan selalu baik.
Begitu juga sebaliknya.
Yang paling penting adalah bagaimana kalian terus belajar, berusaha, dan mau berkembang.
Jadilah seperti padi: semakin berisi, semakin merunduk.
Selain itu, mulai kenali minat kalian sejak sekarang.
Di dunia teknologi ada banyak bidang yang bisa dipelajari: Network, System Security, Design, Programming, Animation, dan masih banyak lagi.
Tidak harus langsung tahu semuanya. Mulailah mencoba.
Semakin cepat kalian menemukan bidang yang kalian sukai, semakin banyak waktu yang kalian miliki untuk mempersiapkan masa depan, baik untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan.
Kalau saya sendiri, sejak sekolah saya tertarik dengan dunia Security, terutama Digital Forensic.
Mungkin kalau ada yang memiliki minat yang sama, kita bisa berbagi cerita di lain waktu.
Kalau saya mengingat kembali perjalanan itu, ternyata semuanya bermula dari hal-hal sederhana.
Danem yang tidak sesuai harapan.
Pilihan antara sekolah di Bangkalan atau Malang.
Pertemuan dengan Mas Ekon.
Perjalanan naik bus bersama Ramah.
Dan keputusan untuk meninggalkan rumah demi mengejar sesuatu yang saat itu bahkan belum saya tahu akan menjadi sebesar apa dalam hidup saya.
Dulu saya pikir saya hanya sedang memilih sekolah.
Ternyata, saya juga sedang memilih sebuah perjalanan.
Perjalanan untuk belajar mandiri, bertanggung jawab, mengenal diri sendiri, dan mengejar mimpi.
Saya tidak tahu apakah keputusan saya waktu itu adalah keputusan terbaik.
Tapi saya bersyukur pernah mengambilnya.
Karena dari sanalah, salah satu bagian penting dalam hidup saya dimulai.
Terima kasih, SMK Telkom Malang.
